Setiap 12 November kita merayakan Hari Ayah. Tapi kalau ditanya, siapa ayahmu? Banyak dari kita langsung membayangkan sosok yang tegas, kadang galak, tapi selalu ada di belakang layar: menyiapkan kebutuhan keluarga, menanggung beban, tanpa harus bilang “lihat aku hebat.”
Ayah sering disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Di rumah, ia jarang minta pujian, tapi selalu memastikan kita makan cukup, sekolah lancar, dan rumah tetap hangat. Ia bukan hanya orang yang bekerja keras, tapi juga guru pertama yang mengajari kita soal tanggung jawab, kesabaran, dan integritas, meski lewat contoh sederhana.
Di usia SMP, mungkin kita kadang sulit mengerti pengorbanannya. Kita kadang mengeluh kalau ia membatasi gadget, atau menyuruh belajar lebih giat. Tapi di balik itu, ayah ingin kita siap menghadapi dunia, membekali kita dengan karakter, bukan sekadar materi.
Merayakan Hari Ayah bukan soal hadiah mahal. Bisa dengan hal sederhana: mengucap terima kasih, membantu pekerjaan rumah, atau sekadar mendengarkan ceritanya setelah pulang kerja. Tindakan kecil itu, bagi ayah, bisa berarti segalanya.
Jadi, Ayah adalah pahlawan kita sehari-hari, pahlawan yang mengajarkan kita berani, jujur, dan bertanggung jawab. Hari Ayah adalah pengingat agar kita tidak melewatkan kesempatan untuk menghargai sosok yang selalu ada, meski jarang terlihat.