Setiap 10 November kita memperingati Hari Pahlawan. Biasanya, kita langsung terbayang tokoh-tokoh besar: Bung Tomo, Cut Nyak Dien, Jenderal Soedirman—orang-orang luar biasa yang berani mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaan. Tapi sebagai siswa SMP, sering muncul pertanyaan: “Aku bisa jadi pahlawan apa? Kan cuma anak SMP.”
Pertanyaan itu wajar. Namun sebenarnya, makna kepahlawanan terus berkembang mengikuti zaman. Dulu, pahlawan membawa bambu runcing, kini pahlawan membawa kesadaran, tanggung jawab, dan karakter baik.
Di era gadget seperti sekarang, tantangan terbesar bukan lagi penjajahan fisik, tetapi perang melawan rasa malas, overthinking, dan distraksi yang datang dari layar. Pahlawan masa kini bukan hanya yang turun ke medan perang, tetapi mereka yang mampu memimpin dirinya sendiri.
Menahan diri untuk tidak menyebarkan hoax, misalnya, adalah bentuk kepahlawanan kecil. Menghormati guru dan orang tua, jujur saat ujian meski teman lain nyontek, membantu teman yang kesulitan memahami materi—itu semua tidak kalah bernilai dibandingkan aksi heroik di masa lalu.
Pahlawan masa kini adalah orang yang memilih melakukan hal benar meskipun tidak ada yang melihat. Orang yang tetap punya mimpi besar meski setiap hari dihujani perbandingan dan ekspektasi. Orang yang bangkit lagi setelah gagal. Orang yang berani berkata maaf, dan berani memaafkan.
Jadi, kalau kamu merasa “kecil” dibanding para pahlawan nasional, ingatlah: mereka dulu juga pernah muda, pernah ragu, pernah takut. Bedanya, mereka memutuskan untuk berbuat baik meski sederhana.
Hari Pahlawan bukan sekadar mengenang keberanian masa lalu, tetapi juga mengajak kita menciptakan keberanian masa kini—di sekolah, di rumah, di dunia digital, dan di dalam diri sendiri.
Karena setiap generasi punya medannya masing-masing. Dan mungkin, medan perang generasi kita adalah melawan diri sendiri agar tetap menjadi manusia yang jujur, kuat, dan bermanfaat. [humas]