LPIT HARAPAN BUNDA PURWOKERTO GELAR UPGRADE GURU INKLUSI

LPIT HARAPAN BUNDA PURWOKERTO GELAR UPGRADE GURU INKLUSI

20 October 2026

Kategori Berita

Informasi Umum

Dipublikasikan

20 October 2026

Pengunggah

LPIT Harapan Bunda

Bagikan

UPGRADE GURU INKLUSI SIT HARAPAN BUNDA, PERKUAT PELAYANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Purwokerto, Jumat, 16 Oktober 2026 — Lembaga Pendidikan Islam Terpadu (LPIT) Harapan Bunda Purwokerto menyelenggarakan kegiatan Upgrade Guru Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan tema “Strategi Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus dalam Proses Pembelajaran”, bertempat di Aula SDIT Harapan Bunda 02 Purwokerto, Jumat (16/10/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh 65 peserta yang terdiri atas Guru Pendamping Anak Berkebutuhan Khusus (GPABK), wali kelas, serta penanggung jawab inklusi dari masing-masing unit di lingkungan LPIT Harapan Bunda Purwokerto.

Foto pelengkap berita

Kegiatan upgrade ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam memahami karakteristik anak berkebutuhan khusus sekaligus memperdalam pengetahuan dan keterampilan dalam menentukan strategi pendampingan yang tepat sesuai dengan kebutuhan setiap anak.

Dalam sambutannya, Kepala LPIT Harapan Bunda Purwokerto, Ustadzah Tri Asmiati, S.Pd., menyampaikan bahwa jumlah anak berkebutuhan khusus di seluruh unit pendidikan LPIT Harapan Bunda mencapai 53 anak. Mereka memiliki karakteristik dan jenis kebutuhan yang beragam, dengan rentang usia mulai dari 3 hingga 15 tahun. Keberagaman tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para guru dalam memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak.
Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang mendalam serta strategi pendampingan yang tepat agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan membantu setiap anak berkembang sesuai dengan potensinya.

Foto pelengkap berita

Memahami Anak Berkebutuhan Khusus

Materi utama disampaikan oleh DR. Yoga Budhi Santoso, M.Pd, beliau menjelaskan bahwa anak berkebutuhan khusus merupakan anak yang membutuhkan pelayanan pendidikan secara khusus sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya. Kebutuhan tersebut dapat bersifat temporer maupun permanen.

DR. Yoga juga menjelaskan bahwa munculnya kebutuhan khusus pada anak dapat dipahami dari adanya kesenjangan antara usia dan kondisi anak dengan tuntutan atau kondisi lingkungan di sekitarnya. Kesenjangan tersebut dapat menimbulkan hambatan atau masalah tertentu yang membutuhkan perhatian dan pendampingan.

Dalam memahami anak berkebutuhan khusus, terdapat dua paradigma yang dapat digunakan. Pertama, paradigma medical, yang lebih melihat kondisi pada individu dan dapat mengarah pada pelabelan atau diagnosis terhadap anak. Kedua, paradigma sosial, yang lebih menekankan pada lingkungan serta bagaimana lingkungan dapat memahami dan memenuhi kebutuhan anak.

Menurut DR. Yoga, perbedaan yang dimiliki anak bukanlah sebuah masalah yang harus menjadi alasan untuk membatasi kesempatan anak dalam belajar. Perbedaan tersebut justru perlu direspons melalui pendampingan dan lingkungan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Dalam konteks pendidikan inklusif, anak berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan untuk belajar bersama di lingkungan sekolah. Berbeda dengan pendekatan eksklusif yang memisahkan anak berdasarkan kondisi atau kebutuhannya, pendidikan inklusif berupaya memberikan layanan pendidikan yang dapat mengakomodasi keberagaman peserta didik.

DR. Yoga menegaskan bahwa di sekolah, anak berkebutuhan khusus perlu mendapatkan program pendampingan yang terarah. Salah satunya melalui penyusunan Program Pembelajaran Individual (PPI) yang digunakan untuk mengetahui kebutuhan, target, serta proses perkembangan masing-masing anak.
Strategi Pendampingan: Siapa, Apa, dan Bagaimana

DR. Yoga menekankan bahwa pendampingan anak berkebutuhan khusus tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam. Guru perlu memahami kondisi anak terlebih dahulu sebelum menentukan materi, metode, dan bentuk intervensi yang akan diberikan.

Strategi pendampingan dapat dimulai melalui tiga pertanyaan mendasar, yaitu siapa, apa, dan bagaimana.
Pertama, siapa, yaitu mengenali siapa anak yang akan didampingi, termasuk tipe, karakteristik, kondisi, serta kebutuhan khusus yang dimilikinya.

Kedua, apa, yaitu menentukan hal-hal yang akan dilakukan dalam mendukung proses perkembangan anak didik, termasuk materi, keterampilan, maupun perilaku yang perlu diajarkan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya.

Ketiga, bagaimana, yaitu menentukan cara, metode, serta langkah-langkah yang tepat agar hal-hal yang telah direncanakan dapat diaplikasikan dan dipahami oleh anak.

Menurut DR. Yoga, ketiga pertanyaan tersebut menjadi dasar penting bagi guru dalam menyusun program pendampingan yang terarah dan sesuai dengan kebutuhan individual peserta didik. Sebelum memulai pembelajaran, guru inklusi perlu mengetahui dengan jelas apa yang akan diajarkan kepada anak. Kejelasan tujuan pembelajaran menjadi landasan dalam menentukan strategi, metode, serta bentuk pendampingan yang sesuai.

Pendekatan ABA dalam Pendampingan

Dalam sesi materi, DR. Yoga juga menjelaskan terapi Applied Behavior Analysis (ABA) sebagai salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam intervensi perilaku pada anak berkebutuhan khusus, sesuai dengan kebutuhan dan tujuan program yang ditetapkan.

Secara sederhana, penerapan prinsip ABA dapat digambarkan melalui rangkaian instruksi – respons – penghargaan (reward). Guru memberikan instruksi yang jelas, mengamati dan membantu respons anak sesuai kebutuhannya, kemudian memberikan penguatan positif ketika anak menunjukkan respons yang diharapkan.
Pendekatan ini perlu dilaksanakan secara terencana, konsisten, dan disesuaikan dengan karakteristik masing-masing anak agar proses pembelajaran dapat berjalan lebih terarah.

DR. Yoga juga menjelaskan adanya perbedaan antara proses terapi dan proses pembelajaran di sekolah formal. Dalam pendidikan formal, proses pembelajaran harus tetap berjalan mengikuti kurikulum dan acuan yang telah ditetapkan. Sementara dalam proses terapi, anak diarahkan untuk menyelesaikan dan menguasai terlebih dahulu kebutuhan atau target yang menjadi fokus intervensinya.

Perbedaan tersebut juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan perlakuan yang diterima anak. Kondisi lingkungan serta cara guru memberikan perlakuan dapat memengaruhi bagaimana anak merespons instruksi atau pembelajaran yang diberikan.

Mendorong Layanan Pendidikan yang Inklusif

Melalui kegiatan upgrade ini, diharapkan para Guru Pendamping Khusus, wali kelas, dan penanggung jawab inklusi dapat semakin meningkatkan kompetensi profesional dalam memberikan layanan pendidikan kepada anak berkebutuhan khusus.

Selain memperkuat pemahaman tentang karakteristik ABK, kegiatan ini diharapkan mampu mendorong kolaborasi antarguru dalam merancang dan menerapkan strategi pembelajaran yang lebih terarah, adaptif, dan berpusat pada kebutuhan anak.

Dengan peningkatan kapasitas guru secara berkelanjutan, LPIT Harapan Bunda Purwokerto berkomitmen untuk terus mengembangkan layanan pendidikan inklusif yang memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk belajar, bertumbuh, dan berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.