Mahkota Itu Bernama Al-Qur’an
Kategori Berita
Informasi Umum
Dipublikasikan
Pengunggah
SMP IT Harapan Bunda
Bagikan
Di banyak keluarga, orang tua bekerja keras demi masa depan anak-anaknya. Ada yang berangkat sebelum matahari terbit, ada yang pulang ketika malam telah larut. Mereka menabung, mengurangi keinginan pribadi, bahkan rela mengesampingkan kenyamanan demi satu harapan: anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik.
Sebagian berharap anaknya menjadi dokter. Sebagian lain membayangkan profesi sebagai guru, pengusaha, atau pemimpin. Semua itu adalah harapan yang wajar. Namun, di atas semua impian duniawi itu, Rasulullah saw. menghadirkan sebuah kabar gembira yang lebih agung.
"Al-Qur'an akan datang pada hari kiamat, lalu berkata, 'Wahai Rabbku, berilah dia pakaian.' Maka dipakaikanlah mahkota kemuliaan kepadanya. Kemudian dikatakan lagi, 'Wahai Rabbku, tambahkanlah.' Maka dipakaikan kepadanya pakaian kemuliaan. Kemudian dikatakan, 'Wahai Rabbku, ridhailah dia.' Maka Allah meridhainya. Lalu dikatakan kepada pembaca Al-Qur'an, 'Bacalah dan naiklah, dan setiap ayat yang dibaca akan menambah satu derajat bagimu.'" (HR. Tirmidzi).
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa kedua orang tua dari seorang anak yang membaca dan mengamalkan Al-Qur'an akan dipakaikan mahkota yang cahayanya lebih indah daripada cahaya matahari yang menerangi rumah-rumah di dunia.
Betapa menariknya. Islam tidak hanya berbicara tentang kemuliaan bagi anak yang dekat dengan Al-Qur'an, tetapi juga menghadirkan kemuliaan bagi kedua orang tuanya.
Artinya, ketika seorang ayah mengantar anaknya mengaji selepas bekerja, ketika seorang ibu sabar mengingatkan murojaah meski harus mengulang berkali-kali, ketika keluarga meluangkan waktu untuk memperdengarkan ayat-ayat Allah di rumah, sesungguhnya mereka sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar prestasi dunia.
Sayangnya, di zaman yang serba cepat ini, kita terkadang lebih mudah bangga ketika anak memperoleh piala atau ranking, tetapi lupa mensyukuri ketika ia mulai lancar membaca Al-Qur'an. Padahal, mungkin dari huruf demi huruf yang sedang ia pelajari itulah, Allah sedang menyiapkan mahkota kemuliaan untuk kedua orang tuanya.
Tentu, menyematkan mahkota itu bukan perkara instan. Tidak cukup hanya dengan mengirim anak ke TPQ atau sekolah Islam. Ia memerlukan keteladanan, kesabaran, dan suasana rumah yang mencintai Al-Qur'an.
Sebab anak-anak tidak tumbuh dari nasihat semata. Mereka tumbuh dari apa yang mereka lihat setiap hari. Sulit mengharapkan anak mencintai Al-Qur'an jika di rumah ia lebih sering melihat orang tuanya menggenggam gawai daripada mushaf. Sulit meminta anak rajin murojaah jika orang tuanya sendiri jarang meluangkan waktu untuk membaca ayat-ayat Allah.
Karena itu, mendidik anak dengan Al-Qur'an sejatinya bukan hanya proyek untuk anak, melainkan proyek bersama seluruh keluarga.
Tidak semua anak akan menjadi hafiz 30 juz. Tidak semua anak akan menjadi qari internasional. Namun, setiap keluarga memiliki kesempatan yang sama untuk menghadirkan kecintaan kepada Al-Qur'an dalam rumah mereka.
Barangkali dimulai dari satu halaman setiap hari. Barangkali dimulai dari mendengarkan murattal bersama. Barangkali dimulai dari membiasakan membaca beberapa ayat sebelum tidur. Sebab mahkota itu tidak disematkan karena ambisi, tetapi karena istiqamah.
Dan kelak, ketika dunia dengan segala kebanggaannya telah ditinggalkan, boleh jadi yang paling membuat seorang ayah dan ibu tersenyum adalah ketika Allah mempertemukan mereka dengan kemuliaan yang dahulu tumbuh dari suara kecil anak-anak mereka yang terbata-bata membaca Al-Qur'an.
Mahkota itu bernama Al-Qur'an.
Dan perjalanan menuju ke sana, mungkin sedang dimulai dari rumah kita hari ini.