Pemira OSIS: Ketika Anak Belajar Memimpin Sebelum Benar-Benar Menjadi Pemimpin
Kategori Berita
Informasi Umum
Dipublikasikan
Pengunggah
SMP IT Harapan Bunda
Bagikan
Ada sesuatu yang menarik dari pemilihan ketua OSIS di sekolah. Anak-anak yang sehari-hari duduk di bangku kelas, mengerjakan tugas, bercanda saat istirahat, dan berdiskusi dengan teman, tiba-tiba berhadapan dengan sebuah pertanyaan yang cukup serius: siapa yang layak diberi amanah untuk memimpin?
Di situlah Pemilihan Raya (Pemira) OSIS sebenarnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan sekolah. Ia adalah ruang belajar. Bukan hanya bagi mereka yang mencalonkan diri, tetapi juga bagi seluruh siswa yang terlibat sebagai pemilih, panitia, maupun pendukung.
Dalam pendidikan Islam, anak tidak dipandang sebagai manusia yang harus terus-menerus diisi. Setiap anak memiliki potensi yang Allah titipkan dalam dirinya, termasuk kecenderungan untuk memimpin, bekerja sama, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan memberi manfaat kepada orang lain. Potensi tersebut tidak cukup hanya dibicarakan di ruang kelas. Ia perlu ditemukan dan diasah melalui pengalaman nyata.
Karena itu, ketika seorang siswa berani mencalonkan diri sebagai pengurus OSIS, sesungguhnya ia sedang belajar mengenali dirinya sendiri. Apakah ia senang berada di depan? Apakah ia mampu menyampaikan gagasan? Apakah ia bisa mendengarkan orang lain? Apakah ia mampu bekerja dalam tim? Dan yang paling penting, apakah ia siap memikul amanah ketika tidak semua orang menyukai keputusan yang dibuatnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak pernah muncul dalam soal ujian. Namun, justru pertanyaan semacam itulah yang kelak mereka hadapi dalam kehidupan.
Pemimpin Tidak Lahir dari Ruang Kosong
Sering kali kita berharap anak-anak kelak menjadi pemimpin yang baik. Tetapi bagaimana mereka belajar menjadi pemimpin jika sejak kecil tidak pernah diberi kesempatan untuk memimpin?
Memimpin tidak selalu berarti menjadi ketua. Memimpin bisa dimulai dari mengatur sebuah kegiatan kecil, mengajak teman melakukan kebaikan, menyelesaikan persoalan dalam kelompok, atau berani bertanggung jawab ketika sebuah tugas tidak berjalan sesuai rencana.
OSIS memberikan ruang yang cukup nyata untuk itu. Ada rapat yang harus disepakati, program yang harus dirancang, teman yang memiliki pendapat berbeda, hingga kegiatan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada pula saat ketika seorang pemimpin harus mengatakan, “Saya bertanggung jawab.”
Semua itu adalah sekolah kehidupan.
Maka, jangan terlalu cepat menilai Pemira hanya dari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Bisa jadi, seorang siswa yang kalah dalam pemilihan justru mendapatkan pelajaran yang sangat berharga: bahwa gagasan yang baik belum tentu langsung diterima, bahwa kerja keras tidak selalu berujung kemenangan, dan bahwa menerima keputusan orang lain dengan lapang dada juga merupakan bagian dari kedewasaan.
Begitu pula siswa yang menang. Kemenangan bukanlah akhir. Justru sejak itulah amanah dimulai.
Belajar Memilih Juga Bagian dari Pendidikan
Pemira bukan hanya pendidikan bagi calon pemimpin. Ia juga pendidikan bagi para pemilih.
Seorang siswa belajar bahwa memilih tidak semestinya hanya karena teman dekat, karena popularitas, atau karena ajakan kelompok. Ia belajar melihat gagasan, mempertimbangkan karakter, mendengarkan visi, lalu mengambil keputusan.
Bukankah kemampuan mengambil keputusan merupakan bekal penting dalam kehidupan?
Kelak mereka akan memilih sekolah lanjutan, memilih lingkungan pertemanan, memilih pekerjaan, memilih pasangan hidup, bahkan memilih sikap ketika berhadapan dengan persoalan. Semua pilihan tersebut membutuhkan kemampuan untuk mempertimbangkan, bukan sekadar mengikuti suara terbanyak.
Karena itu, Pemira dapat menjadi latihan kecil untuk membangun budaya memilih secara bertanggung jawab.
Ada Fitrah Sosial yang Sedang Tumbuh
Manusia tidak hidup sendirian. Anak-anak akan tumbuh menjadi bagian dari keluarga, masyarakat, bangsa, dan umat. Mereka membutuhkan kemampuan untuk bekerja bersama orang lain, memahami perbedaan, berkomunikasi, sekaligus menjaga hubungan meskipun memiliki pilihan yang berbeda.
Pemira memberikan pengalaman itu dalam bentuk yang sederhana.
Hari ini mereka mungkin berbeda pilihan. Besok mereka kembali duduk bersama di kelas. Teman yang tidak memilihnya tetap menjadi teman. Calon yang kalah tetap memiliki peran. Calon yang menang tetap membutuhkan dukungan.
Di sinilah anak belajar bahwa perbedaan pilihan tidak harus berubah menjadi permusuhan. Justru setelah kontestasi selesai, kehidupan bersama harus tetap berjalan.
Jangan Jadikan Pemira Sekadar Mencari Pemenang
Pada akhirnya, sekolah tidak seharusnya hanya sibuk memastikan siapa yang mendapatkan suara terbanyak. Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap anak mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna dari seluruh proses tersebut.
Calon belajar tentang keberanian dan amanah. Pemilih belajar tentang pertimbangan dan tanggung jawab. Panitia belajar tentang ketelitian dan kejujuran. Semua belajar tentang menerima hasil dan menghormati pilihan orang lain.
Jika itu yang terjadi, maka siapa pun yang terpilih, pendidikan sebenarnya telah berlangsung.
Sebab tujuan pendidikan bukan semata-mata menghasilkan seorang ketua OSIS. Lebih jauh dari itu, pendidikan sedang menyiapkan manusia yang kelak mampu memimpin dirinya sendiri, keluarganya, pekerjaannya, dan jika Allah menghendaki, masyarakat di sekitarnya.
Mungkin hari ini mereka hanya sedang memilih ketua OSIS. Tetapi di balik nomor urut, gagasan, kampanye, dan suara yang diberikan, ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang dilatih: bagaimana menjadi manusia yang mampu mengenali potensi dirinya, bertanggung jawab atas pilihannya, dan menggunakan kemampuan tersebut untuk memberi manfaat.
Dan barangkali, itulah makna Pemira yang sesungguhnya.
Informasi Terbaru
Semarak Agustusan SDIT Harapan Bunda Pecah! Anak-Anak hingga...
Semangat Kemerdekaan Menggema, SDIT Harapan Bunda Purwokerto...
Tiga Pasangan Calon Ikuti Pemira OSIS SMP IT Harapan Bunda 2...
Market Day Perdana TKIT Harapan Bunda: Belajar Berjualan, Be...
Keceriaan Lomba HUT RI ke-81 di TKIT Harapan Bunda: Menumbuh...