Tiga Hari Merakit Harapan, Siswa SMP Ubah Ujian IPA Jadi Miniatur Penuh Cerita
6 April 2026
Kategori Berita
Karya Siswa
Dipublikasikan
6 April 2026
Pengunggah
SMP IT Harapan Bunda
Bagikan
Ujian praktik Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMP IT Harapan Bunda Purwokerto tak sekadar soal nilai. Bagi Hamzah, siswa kelas IX, ujian ini adalah tentang proses panjang merakit ide, kesabaran, dan ketekunan selama berhari-hari.
Dalam ujian tersebut, siswa diminta membuat miniatur bangunan yang dilengkapi rangkaian listrik sederhana. Hamzah memilih konsep yang tidak biasa: terinspirasi dari arsitektur negara sakura, Jepang. Ia mengaku membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk menyelesaikan miniatur tersebut, mulai dari merancang bentuk, menyusun bahan, hingga memastikan rangkaian listrik dapat berfungsi dengan baik.
“Tidak langsung jadi. Kadang rangkaiannya tidak menyala, harus bongkar lagi,” ujarnya.
Di balik hasil akhir yang tampak rapi, ada proses yang sering tak terlihat. Siswa harus belajar dari kesalahan, mencoba ulang rangkaian yang gagal, hingga melatih kesabaran ketika hasil tidak sesuai harapan. Tidak sedikit yang harus memperbaiki sambungan kabel atau mengganti komponen agar lampu pada miniatur dapat menyala.
Proyek ini menguji pemahaman siswa tentang arus listrik dan komponen kelistrikan, sekaligus melatih keterampilan merakit. Namun lebih dari itu, kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang utuh—menggabungkan logika, kreativitas, dan daya tahan dalam menyelesaikan tugas.
Bagi sebagian siswa, ini mungkin pertama kalinya mereka merasakan bahwa belajar sains tidak hanya tentang teori di buku, tetapi juga tentang mencoba, gagal, lalu mencoba kembali.
Melalui ujian praktik seperti ini, sekolah menghadirkan ruang belajar yang lebih dekat dengan kehidupan nyata. Di tangan para siswa, rangkaian listrik sederhana bukan hanya menjadi tugas, tetapi juga cerita tentang proses menjadi yang sering kali lebih bermakna daripada sekadar hasil akhir. [humas]
Dalam ujian tersebut, siswa diminta membuat miniatur bangunan yang dilengkapi rangkaian listrik sederhana. Hamzah memilih konsep yang tidak biasa: terinspirasi dari arsitektur negara sakura, Jepang. Ia mengaku membutuhkan waktu sekitar tiga hari untuk menyelesaikan miniatur tersebut, mulai dari merancang bentuk, menyusun bahan, hingga memastikan rangkaian listrik dapat berfungsi dengan baik.
“Tidak langsung jadi. Kadang rangkaiannya tidak menyala, harus bongkar lagi,” ujarnya.
Di balik hasil akhir yang tampak rapi, ada proses yang sering tak terlihat. Siswa harus belajar dari kesalahan, mencoba ulang rangkaian yang gagal, hingga melatih kesabaran ketika hasil tidak sesuai harapan. Tidak sedikit yang harus memperbaiki sambungan kabel atau mengganti komponen agar lampu pada miniatur dapat menyala.
Proyek ini menguji pemahaman siswa tentang arus listrik dan komponen kelistrikan, sekaligus melatih keterampilan merakit. Namun lebih dari itu, kegiatan ini menghadirkan pengalaman belajar yang utuh—menggabungkan logika, kreativitas, dan daya tahan dalam menyelesaikan tugas.
Bagi sebagian siswa, ini mungkin pertama kalinya mereka merasakan bahwa belajar sains tidak hanya tentang teori di buku, tetapi juga tentang mencoba, gagal, lalu mencoba kembali.
Melalui ujian praktik seperti ini, sekolah menghadirkan ruang belajar yang lebih dekat dengan kehidupan nyata. Di tangan para siswa, rangkaian listrik sederhana bukan hanya menjadi tugas, tetapi juga cerita tentang proses menjadi yang sering kali lebih bermakna daripada sekadar hasil akhir. [humas]
Informasi Terbaru
Tekankan Adab dan Pergaulan, Upacara Bendera di SMPIT Harapa...
Ujian Praktik IPA, Siswa Kelas IX SMPIT Harapan Bunda Rancan...
Optimalisasi Media IFP dalam Meningkatkan Kualitas Pembelaja...
Ujian Praktik Dimulai, Siswa Kelas IX SMPIT Harapan Bunda Ja...
Jelang TKA, SMPIT Harapan Bunda Ikuti Sosialisasi Pemantapan...